• Space

TikTok, Strategi Bisnis Baru?

  • ⌖ 2020-02-29
  • ⌖ Marcomm NAP Info

Banyak pihak memprediksi bahwa tahun ini TikTok akan semakin ‘mengguncang’ dunia, bahkan menggoyahkan media sosial pendahulunya. Dikutip dari wearesocial.com, aplikasi yang berasal dari Negeri Tirai Bambu ini disebut-sebut telah menjadi “aplikasi gratis paling banyak diunduh di dunia”, juga menempati posisi ke-6 dunia dalam  peringkat aplikasi dengan pengguna aktif terbanyak (melampaui Twitter, Snapchat dan LinkedIn).

Meski awalnya populer di kalangan remaja, Tiktok kini telah menjadi sensasi lintas generasi. Di Indonesia sendiri, aplikasi yang kerap menampilkan para penggunanya berjoget mengikuti musik ini digandrungi oleh para selebritas hingga pejabat, yang barangkali menjadi alasan mengapa popularitasnya berhasil menembus nyaris seluruh lapisan masyarakat.

Dengan angka pengguna yang terus meningkat, brand-brand dunia juga mulai melirik TikTok untuk mempromosikan produknya. Tengok saja Coca-Cola dengan challenge TikToknya bertagar #ShareaCoke, yang menghasilkan 900,000 video dari para audiens yang dilihat hingga 200 juta kali. Berbagai nama besar dari industri yang berbeda seperti Nestle, Nike, Fenty Beauty, Apple Music hingga Disney dan Warner Bros. pun sudah mulai memanfaatkan TikTok dalam promosinya.

Semua ini terlihat menjanjikan, menggiring perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia mulai mempertimbangkan menjadikan TikTok bagian dari strategi marketing masing-masing. Jika perusahaanmu salah satunya, kami sudah merangkum beberapa hal yang harus kamu pertimbangkan sebelum mulai mempromosikan usahamu menggunakan platform yang tengah naik daun ini.

 

Apakah target pasar perusahaanmu aktif di TikTok?

Kamu bisa saja membuat banyak video lucu dan berkreasi dengan challenge seru, tapi apakah video ini akan mencapai taget audiens yang tepat bagi perusahaan? Apakah jumlah audiens sasaranmu yang aktif di TikTok cukup banyak sehingga pemasaranmu dapat berdampak signifikan ketimbang dengan menggunakan platform media sosial lain?

Perlu diingat, bahwa meskipun sudah mulai banyak digunakan pengguna dewasa, audiens TikTok tetaplah didominasi oleh generasi Z, yakni mereka yang lahir pada periode 1995-2010 (berjumlah 60% dari total pengguna). Artinya, kebanyakan penggunanya saat ini berada di bawah usia 25 tahun. Pastikan bahwa brand/produk perusahaanmu sesuai dengan karakteristik usia tersebut.

 

Tahukah kamu bahwa TikTok memiliki platform khusus untuk beriklan?

Saat ini, ada empat jenis format iklan yang dapat kamu gunakan di TikTok:


  • Brand takeover: Iklan berbentuk gambar, GIF atau video yang memungkinkan satu brand mendominasi topik spesifik di hari tersebut.

  • In-feed native video: Iklan video vertikal berdurasi 9-15 detik yang muncul di halaman “For You”.

  • Hashtag challenge: Ciptakan tagar sponsor (sponsored hashtags) untuk mendorong para pengguna menciptakan konten terkait demi memancing interaksi bahkan menarik influencers.

  • Branded lenses: Ciptakan lensa 2D atau 3D dengan watermark yang dapat dipakai pengguna dalam konten mereka.

 

Meski demikian, promosi organik tampaknya masih lebih menjanjikan.

Iklan berbayar merupakan hal yang relatif baru di TikTok dan para pengguna masih mengeksplorasi fitur ini. Sementara itu, kampanye organik sudah terbukti sukses. Dikutip dari thedrum.com, keberhasilan promosi di TikTok sebenarnya terletak pada beberapa hal seperti kekuatan branding, influencers, konten viral dan teknik soft-selling. Manfaatkan hal-hal tersebut untuk mendorong promosi brand/produkmu.

 

Akankah budget yang perusahaanmu keluarkan setimpal dengan hasilnya?

Ingin mencoba beriklan di TikTok berarti harus nekat bereksperimen. Namun, dengan rata-rata CPC (cost per click) senilai 10USD (sekitar 140 ribu rupiah), kamu sedang menempatkan budget yang tidak sedikit demi percobaan tersebut. Berikut beberapa data yang kami kutip dari walaroomedia.com terkait konten iklan di TikTok:

  • Brand takeover berkisar 20,000 – 200,000 USD (Digiday, 2019)

  • Hashtag challenges seharga lebih dari 100,000 USD (Adweek, 2019)

  • Advertising campaigns mulai dari 500USD/hari

TikTok juga merekomendasikan tambahan 100,000 – 200,000 USD untuk mempromosikan hashtag challenge. Di luar itu, para influencers dengan 2.5 juta pengikut atau lebih biasanya memberi harga 600-1000USD per postingan yang mereka iklankan (Telegraph, 2019).

 

Jika seluruh hal ini sesuai dengan strategi perencanaan brand-mu, maka beriklan di TikTok bisa sangat menjanjikan bagi bisnismu. Jika belum, barangkali kamu perlu mempertimbangkan platform lain untuk menjalankannya. Bagaimanapun, TikTok tetap menjadi pemain yang patut diperhatikan dalam waktu yang akan datang. Akankah TikTok menghadirkan inovasi baru di dunia pemasaran? Kita lihat saja.